Software Pulsa Tiger Engine
gathering 2014 yogyakarta

advertisement   advertisement   advertisement

Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 21

cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

This is a discussion on cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio within the Out of Topic forums, part of the General category; Sebentar lagi kita memperingati gerakan 30 september pki Bagi yang belom tahu detailnya apa yg telah terjadi semua di balik ...

  1. #1
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Exclamation Cuplikan Tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Sebentar lagi kita memperingati gerakan 30 september pki
    Bagi yang belom tahu detailnya apa yg telah terjadi semua di balik tragedi "GESTAPU"

    buku ini menceritakan pengakuan dr.soebandrio ttg peristiwa G30SPKI versi dia...

    intinya...

    menurut dia dalang sebenernya peristiwa ini adalah AD kubu kelompok bayangan soeharto yg membuat rekayasa buat menuduh PKI sebagai dalang peristiwa tersebut...
    rekayasa dan provokasi kelompok bayangan soeharto tersebut adalah...

    - peristiwa sakitnya bung karno pd awal agustus 1965 yg dibesar2kan...
    diberitakan pd waktu itu sakit bung karno sangat berat.Dikabarkan, pimpinan PKI DN Aidit sampai mendatangkan dokter dr RRC...Dokter RRC yang memeriksa Bung Karno
    menyatakan bahwa Bung Karno sedang kritis. Intinya,
    jika tidak meninggal dunia, Bung Karno dipastikan
    bakal lumpuh. Ini menggambarkan bahwa Bung Karno saat
    itu benar-benar sakit parah.Dari peristiwa itu lantas dianalisis bahwa PKI yang saat itu berhubungan mesra dengan Bung Karno - merasa khawatir pimpinan
    nasional bakal beralih ke tangan orang AD. PKI tentu
    tidak menghendaki hal itu, mengingat PKI sudah
    bermusuhan dengan AD sejak pemberontakan PKI di
    Madiun, 1948.Menurut analisis tersebut, begitu PKI
    mengetahui bahwa Bung Karno sakit keras, mereka
    menyusun kekuatan untuk merebut kekuasaan. Akhirnya
    meletus G30S.
    Ini alibi rekayasa Soeharto yang mendasari tuduhan
    bahwa PKI adalah dalang G30S.

    peristiwa ini ditulis di banyak buku, sebab memang hanya itu informasi yang ada
    dan tidak dapat dikonfirmasi, karena pelakunya - Bung
    Karno, DN Aidit dan dokter RRT -ketiga-tiganya tidak
    dapat memberikan keterangan sebagai bahan
    perbandingan. Bung Karno ditahan sampai meninggal.
    Aidit ditembak mati tanpa proses pengadilan; sedangkan
    dokter RRT itu tidak jelas keberadaannya. Itulah
    sejarah versi plintiran.


    Tetapi ada saksi lain selain tiga orang itu, yakni
    Dr.Soebandrio sendiri dan Wakil Perdana Menteri-II, dr.
    Leimena.

    Dr.Soebandrio adalah dokter yang sekaligus dekat dengan Bung Karno.
    dia mengetahui secara persis peristiwa kecil itu.
    Yang benar demikian: memang Bung Karno diperiksa oleh
    seorang dokter Cina yang dibawa oleh Aidit, tetapi
    dokternya bukan didatangkan dari RRC, melainkan dokter
    Cina dari Kebayoran Baru, Jakarta, yang dibawa oleh
    Aidit. Fakta lain: Bung Karno sebelum dan sesudah
    diperiksa dokter itu juga saya periksa. Pemeriksaan
    yang dilakukan dr.soebandrio didampingi oleh dr. Leimena. Jadi
    ada tiga dokter yang memeriksa Bung Karno.
    Penyakit Bung Karno saat itu adalah: masuk angin
    (bukan sakit keras seperti yg dikabarkan tersebut).
    DN Aidit juga mengetahui penyakit Bung Karno ini.
    penyebabnya adalah...
    Beberapa malam sebelumnya, Bung Karno
    jalan-jalan meninjau beberapa pasar di Jakarta.
    Tujuannya adalah melihat langsung harga bahan
    kebutuhan pokok. Jalan keluar-masuk pasar di malam
    hari tanpa pengawalan yang memadai sering dilakukan
    Bung Karno. Nah, itulah penyebab masuk angin.
    Tetapi kabar yang beredar adalah bahwa Bung Karno
    sakit parah. Lantas disimpulkan bahwa karena itu PKI
    kemudian menyusun kekuatan untuk mengambil-alih
    kepemimpinan nasional. Akhirnya meletus G30S yang
    didalangi oleh PKI.
    kelompok Soeharto sengaja menciptakan isu yang secara logika
    membenarkan PKI berontak atau menyebarkan kesan
    (image) bahwa dengan cerita itu PKI memiliki alasan
    untuk melakukan kudeta.
    Yang bisa
    memberikan keseimbangan berita sebenarnya ada lima orang yaitu
    Bung Karno, Aidit, dokter Cina tersebut,
    Leimena dan dr.soebandrio sendiri. Tetapi setelah meletus G30S
    semuanya dalam posisi lemah.
    Intinya, pada bulan Agustus 1965 kelompok bayangan
    Soeharto jelas kelihatan ingin secepatnya memukul PKI.
    Caranya, mereka melontarkan provokasi-provokasi
    seperti itu.
    Provokasi adalah cara perjuangan yang
    digunakan oleh para jenderal AD kanan untuk mendorong
    PKI mendahului memukul AD. Ini taktik untuk merebut
    legitimasi rakyat. Jika PKI memukul AD, maka PKI
    ibarat dijebak masuk ladang pembantaian (killing
    field). Sebab, AD akan - dengan seolah-olah terpaksa -
    membalas serangan PKI. Dan, serangan AD terhadap PKI
    ini malah didukung rakyat, sebab seolah-olah hanya
    membalas. Ini taktik AD Kubu Soeharto untuk menggulung
    PKI.
    Jangan lupa, PKI saat itu memiliki massa yang
    sangat besar, sehingga tidak dapat ditumpas begitu
    saja tanpa taktik yang canggih.

    Pelaku G30S adalah tentara dan gerakan itu didukung
    oleh Soeharto yang juga tentara. Sedangkan Aidit
    langsung ditembak mati tanpa proses pengadilan.


    -isu dewan jenderal

    Isu Dewan Jenderal bersumber dari Angkatan
    Kelima. Angkatan Kelima bersumber dari rencana sumbangan
    persenjataan gratis dari RRC. Tiga hal ini berkaitan
    erat. tawaran bantuan persenjataan gratis untuk sekitar 40 batalyon
    dari RRC diterima Bung Karno. Hanya tawaran yang
    diterima, barangnya belum dikirim. Bung Karno lantas
    punya ide membentuk Angkatan Kelima.
    Ternyata Menpangad Letjen A Yani tidak menyetujui ide
    mengenai Angkatan Kelima itu.Para perwira ABRI lainnya mengikuti Yani, tidak setuju
    pada ide Bung Karno itu.
    Karena itulah berkembang isu mengenai adanya
    sekelompok perwira AD yang tidak puas terhadap
    Presiden. Isu terus bergulir, sehingga kelompok
    perwira yang tidak puas terhadap Presiden itu disebut
    Dewan Jenderal
    . Perkembangan isu selanjutnya adalah
    bahwa Dewan Jenderal akan melakukan kup terhadap
    Presiden.
    Yang paling serius menanggapi isu Dewan Jenderal itu
    adalah Letkol Untung Samsuri.
    Sebagai salah satu
    komandan Pasukan Kawal Istana - Cakra Birawa - ia
    memang harus tanggap terhadap segala kemungkinan yang
    membahayakan keselamatan Presiden. Untung gelisah.
    Lantas Untung punya rencana mendahului gerakan Dewan
    Jenderal
    dengan cara menangkap mereka. Rencana ini
    disampaikan Untung kepada Soeharto. Menanggapi itu
    Soeharto mendukung. Malah Untung dijanjikan akan
    diberi bantuan pasukan. Ini diceritakan oleh Untung
    kepada dr.soebandrio saat mereka sama-sama ditahan di LP Cimahi,
    Bandung
    Pada 26 September 1965 muncul informasi dari empat orang
    sipil. Mereka adalah Muchlis Bratanata, Nawawi
    Nasution, Sumantri dan Agus Herman Simatupang. Dua
    nama yang disebut terdahulu adalah orang NU sedangkan
    dua nama belakangnya dri IPKI.Mereka cerita bahwa
    pada tanggal 21 September 1965 diadakan rapat Dewan
    Jenderal di Gedung Akademi Hukum Militer di Jakarta.

    Rapat itu membicarakan antara lain: Mengesahkan
    kabinet versi Dewan Jenderal.
    Muchlis tidak hanya bercerita, ia bahkan menunjukkan
    pita rekaman pembicaran dalam rapat. Dalam rekaman
    tersebut ada suara Letjen S. Parman (salah satu korban
    G30S)
    yang membacakan susunan kabinet.
    Susunan kabinet versi Dewan Jenderal - menurut rekaman
    itu - adalah sebagai berikut:

    Letjen AH Nasution sebagai Perdana Menteri
    Letjen A Yani sebagai Waperdam-I (berarti menggantikan
    saya) merangkap Menteri
    Hankam,
    Mayjen MT Haryono menjadi Menteri Luar Negeri,
    Mayjen Suprapto menjadi Menteri Dalam Negeri,
    Letjen S Parman sendiri menjadi Menteri Kehakiman,
    Ibnu Sutowo (kelak dijadikan Dirut Pertamina oleh
    Soeharto)
    menjadi menteri Pertambangan.
    Seharusnya rencana ini masuk klasifikasi sangat
    rahasia
    . Tetapi mengapa bisa dibocorkan oleh empat
    orang sipil?
    DR.soebandrio menarik kesimpulan: tiada lain
    kecuali sebagai alat provokasi. Jika alat provokasi,
    maka rekaman itu palsu. Tujuannya untuk mematangkan
    suatu rencana besar yang semakin jelas gambarannya.
    Bisa untuk mempengaruhi Untung akan semakin yakin
    bahwa Dewan Jenderal - yang semula kabar angin -
    benar-benar ada.
    Last edited by ab media; 27th September 2008 at 09:21.

  2. Asisten VRE
    Kiswara Modem
  3. #2
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    - Dokumen Gilchrist
    Dokumen ini sebenarnya
    adalah telegram (klasifikasi sangat rahasia) dari Duta
    Besar Inggris untuk Indonesia di Jakarta Sir Andrew
    Gilchrist kepada Kementrian Luar Negeri Inggris.
    Dokumen itu bocor ketika hubungan Indonesia-Inggris
    sangat tegang akibat konfrontasi Indonesia-Malaysia
    soal Borneo (sebagian wilayah Kalimantan).
    Isi dokumen itu dia nilai sangat gawat. Intinya:
    Andrew Gilchrist melaporkan kepada atasannya di Kemlu
    Inggris yang mengarah pada dukungan Inggris untuk
    menggulingkan Presiden Soekarno. Di sana ada
    pembicaraan Gilchrist dengan seorang kolega Amerikanya
    tentang persiapan suatu operasi militer di Indonesia.
    dr soebandrio mengkutip salah satu paragraf yang berbunyi demikian:
    rencana ini cukup dilakukan bersama 'our local army
    friends.'
    pemerintah Inggris tidak pernah
    melontarkan bantahan, padahal sudah mengetahui bahwa
    dokumen rahasia itu beredar di Indonesia.
    reaksi bung karno sangat terkejut, tentu
    Bung Karno cemas.Bung Karno sedang
    terbakar oleh provokasi itu.ini adalah alat provokasi untuk memainkan TNI AD
    dalam situasi politik Indonesia yang memang tidak
    stabil.
    Pertama: isinya cukup membuat orang yang
    menjadi sasaran merasa ngeri. Kedua, dokumen sengaja
    dibocorkan agar jatuh ke tangan pendukung-pendukung
    Bung Karno dan PKI. Bagaimana mungkin dokumen rahasia
    seperti itu berada di rumah Palmer yang menjadi
    bulan-bulanan demo pemuda. Apakah itu bukan suatu cara
    provokasi?
    Dokumen Gilchrist adalah provokasi pertama.
    Sedangkan provokasi kedua adalah isu Dewan Jenderal.
    sumber utama dua alat provokasi itu memang cukup rumit
    untuk dipastikan.
    Soeharto juga bermain dalam isu Dewan
    Jenderal. Beberapa waktu sebelum G30S meletus, Yoga
    diutus oleh Soeharto untuk menemui Mayjen S Parman
    guna menyampaikan saran agar Parman berhati-hati
    karena isu bakal adanya penculikan terhadap
    jenderal-jenderal sudah santer beredar. Namun tidak
    ada yang tahu siapa yang menyebarkan isu seperti itu.
    Parman tidak terlalu serius menanggapi saran itu,
    sebab itu hanya isu. Parman bertanya kepada Yoga:
    Apakah pak Yoga sudah punya bukti-bukti? Yang ditanya
    menjawab: Belum, pak. Lantas Parman menyarankan agar
    Yoga mencari bukti. Jangan hanya percaya isu sebelum
    ada bukti, kata Parman. Yoga menyanggupi akan
    mencarikan bukti.Yoga adalah anggota Trio Soeharto
    informasi yang disampaikan oleh Yoga kepada Parman itu bertujuan
    untuk mengetahui reaksi Parman yang dikenal dekat
    dengan Yani. Info tersebut tentu untuk memancing,
    apakah Parman sudah tahu. Sekaligus - jika
    memungkinkan - mengungkap seberapa jauh partisipasi
    Parman terhadap isu tersebut. Dan karena Parman adalah
    teman dekat Yani, reaksi Parman ini bisa disimpulkan
    sebagai mewakili persiapan Yani.
    Dengan reaksi Parman seperti itu, maka bisa
    disimpulkan bahwa Parman sama sekali tidak
    mengantisipasi arah selanjutnya jika seandainya Dewan
    Jenderal benar-benar ada. Parman tidak siap menghadapi
    kemungkinan yang bakal terjadi selanjutnya. Ini juga
    bisa disimpulkan bahwa Yani juga tidak siap.
    Intinya, info dari Yoga kepada Parman berbalas info,
    sehingga kelompok Soeharto mendapatkan info bahwa
    kelompok Yani sama sekali belum siap mengantisipasi
    kemungkinan terjadinya penculikan. Lebih jauh, rencana
    Soeharto melakukan gerakan dengan memanfaatkan Kolonel
    Latief dan memanipulasi kelompok Letkol Untung, belum
    tercium oleh kelompok lawan: Kelompok Yani.
    Jika seandainya gerakan gagal mencapai tujuan
    (khususnya bila Parman tidak berhasil dibunuh), maka
    peringatan Yoga akan lain maknanya. Peringatan itu
    bisa berubah menjadi jasa Soeharto menyelamatkan
    Parman. Maka Soeharto tetap tampil sebagai pahlawan.

  4. #3
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    - ADANYA PERAN AMERIKA SERIKAT

    Sudah jelas AS takut Indonesia
    dikuasai oleh komunis. Dan karena Bung Karno cenderung
    kiri, maka proyek mereka ada dua: hancurkan PKI dan
    gulingkan Bung Karno. AS juga punya
    kepentingan ekonomis di Indonesia dan secara umum di
    Asia.
    Secara kongkrit bisnis minyak AS di Indonesia (Caltex) serta
    beberapa perusahaan lainnya - bagi AS - harus aman.
    Karena itu politik Bung Karno dianggap membahayakan
    kepentingan AS di Indonesia. Namun mereka kesulitan
    mengubah sikap Bung Karno yang tegas. Ada upaya AS
    untuk membujuk Bung Karno agar mengubah sikap
    politiknya tetapi gagal. Secara politis Bung Karno
    juga sangat kuat. Di dalam negeri Bung Karno didukung
    oleh Angkatan Bersenjata dan PKI. Tak kalah
    pentingnya, rakyat sungguh kagum dan simpati
    terhadapnya. Di luar negeri ia mendapat dukungan dari
    negara-negara Asia Tenggara dengan politik
    Non-Bloknya.


    Soal sakitnya Presiden,
    target mereka bukan menjebak PKI melakukan gerakan -
    sehingga PKI masuk ladang pembantaian - sebab Aidit
    tahu persis Presiden hanya masuk angin.
    Plintiran isu tersebut lebih untuk konsumsi publik.
    Jika suatu saat ada gerakan perebutan kekuasaan, maka
    akan terlihat wajar bila gerakan itu dilakukan oleh
    PKI. Jika Presiden sakit keras, wajar PKI merebut
    kekuasaan, karena takut negara akan dikuasai oleh
    militer. Dan karena itu, wajar pula jika PKI dihabisi
    oleh militer.
    Dokumen Gilchrist jelas ada pemain Amerikanya. Dokumen itu awalnya disimpan di
    rumah warga Amerika Bill Palmer. Dokumen tersebut
    menurut dr.soebandrio otentik, namun mengapa dibocorkan?
    Faktanya: pada pertengahan
    November 1965 AS mengirim bantuan obat-obatan dalam
    jumlah besar ke Indonesia. Bantuan tersebut
    mengherankan
    .Indonesia tidak sedang dilanda
    gempa bumi. Juga tidak ada bencana atau perang. Yang
    ada adalah bahwa pada 1 Oktober 1965 terjadi
    pembantaian enam jenderal dan seorang letnan.
    Pada saat obat-obatan itu dikirim kira-kira sudah 40 ribu anggota PKI dan
    simpatisannya dibantai. Nah, di sinilah pengiriman
    obat-obatan itu menjadi janggal. Suatu logika yang
    sangat aneh jika AS membantu obat-obatan untuk PKI.

    laporan bahwa kiriman obat-obatan itu hanya kamuflase; hanya
    sebuah selubung untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih
    penting. Sebenarnya itu adalah kiriman senjata untuk
    membantu tentara dan pemuda membantai PKI.
    Di sisi lain, reputasi mereka di bidang
    subversif sudah dibuktikan dengan tampilnya agen-agen
    CIA yang berpengalaman menghancurkan musuh di berbagai
    negara.Salah satu agen CIA yang andal adalah Marshall Green
    (Dubes AS untuk Indonesia). Reputasinya di bidang
    subversif tak diragukan lagi. Sebelum bertugas di
    Indonesia ia adalah Kuasa Usaha AS di Korea Selatan.
    Di sana ia sukses menjalankan misi AS membantu
    pemberontakan militer oleh Jenderal Park Chung Hee
    yang kemudian memimpin pemerintahan militer selama
    tiga dekade. Di Indonesia ia menggantikan Howard Jones
    menjelang meletusnya G30S. Jadi pemain penting asing
    dalam drama 1 Oktober 1965 itu adalah Green dan Jones.
    Tentu CIA tidak dapat bekerja sendiri menghancurkan
    komunis di Indonesia.mereka butuh mitra lokal.
    Di Indonesia mereka merekrut Kamaruzaman yang lebih
    terkenal dengan panggilan Sjam sebagai spion. Sjam
    adalah tentara sekaligus orang PKI. Kedudukan Sjam di
    PKI sangat strategis yaitu sebagai Ketua Biro Khusus
    PKI yang bisa berhubungan langsung dengan Ketua PKI DN
    Aidit.
    CIA beruntung
    memiliki mitra lokal yang berdiri di dua kubu yang
    berseberangan.
    pada tanggal 12 Agustus 1965 ia
    mengaku dipanggil oleh Aidit untuk membahas betapa
    seriusnya sakit Presiden. Juga Kemungkinan Dewan
    Jenderal mengambil tindakan segera jika Presiden
    meninggal. Itu dikatakan setelah Aidit dibunuh.
    Di pengadilan Sjam mengatakan bahwa perintah menembak
    para jenderal datang dari dia sendiri, namun itu atas
    perintah Aidit yang disampaikan kepadanya. Inilah
    satu-satunya pernyataan yang memberatkan Aidit selain
    keberadaan Aidit di Halim pada taggal 30 September
    1965 malam. Namun Aidit tidak sempat bicara sebab dia
    ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto (kelak
    dijadikan Gubernur Lampung oleh Soeharto)


  5. #4
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    - MENJALIN SAHABAT LAMA

    Ini adalah bagian yang mengungkap keterlibatan
    Soeharto dalam G30S. Dia menjalin hubungan dengan dua
    sahabat lama - Letkol TNI AD Untung Samsuri dan
    Kolonel TNI AD Abdul Latief - beberapa waktu sebelum
    meletus G30S. Untung kelak menjadi komandan pasukan
    yang menculik dan membunuh 7 perwira, sedangkan Latief
    hanya dituduh terlibat dalam peristiwa itu.
    Untung adalah anak buah Soeharto ketika Soeharto masih
    menjabat sebagai Panglima Divisi Diponegoro, Jateng
    Untung bertubuh agak pendek namun berjiwa pemberani.
    Ia adalah tipe tentara yang loyal
    kepada atasannya, sebagaimana umumnya sikap prajurit
    sejati. Kepribadiannya polos dan jujur. Ini terbukti
    dari fakta bahwa sampai beberapa saat sebelum
    dieksekusi, dia masih tetap percaya bahwa vonis
    hukuman mati terhadap dirinya tidak mungkin
    dilaksanakan." Percayalah, pak Ban, vonis buat saya itu
    hanya sandiwara" katanya... Kenapa
    begitu? Karena ia percaya pada Soeharto yang mendukung
    tindakannya: membunuh para jenderal.
    ekitar akhir 1950-an Soeharto dan Untung pisah
    kesatuan. Namun pada tahun 1962 mereka berkumpul lagi.
    Mereka dipersatukan oleh tugas merebut Irian Barat
    dari tangan Belanda. Saat itu Soeharto adalah Panglima
    Komando Mandala, sedangkan Untung adalah anak buah
    Soeharto yang bertugas di garis depan.
    Dalam tugas
    itulah keberanian Untung tampak menonjol: ia memimpin
    kelompok kecil pasukan yang bertempur di hutan
    belantara Kaimana. Operasi pembebasan Irian akirnya
    sukses. Pada tanggal 15 Oktober 1962 Belanda
    menyerahkan Irian kepada PBB. Lantas pada tanggal 1
    Mei 1963 Irian diserahkan oleh PBB ke pangkuan RI.
    Keberanian Untung di medan perang sampai ke telinga
    Presiden. Karena itu Untung dianugerahi Bintang
    Penghargaan oleh Presiden Soekarno karena
    keberaniannya.
    Setelah itu Untung dan Soeharto berpisah lagi dalam
    hubungan garis komando.
    Presiden Soekarno menarik Untung menjadi salah satu komandan Batalyon Kawal
    Istana, Cakra Bhirawa. Sedangkan Soeharto akhirnya
    menjadi Pangkostrad. Namun tugas baru Untung itu
    membuat Soeharto marah. Soeharto ingin merekrut Untung
    masuk ke Kostrad menjadi anak-buahnya, karena ia tahu
    bahwa Untung itu pemberani.Saat itu konflik Bung Karno dan PKI di satu sisi
    dengan para pimpinn AD di sisi lain belum terlalu
    tajam.Dalam perkembangannya, konflik Bung Karno dan
    PKI dengan AD itu semakin memuncak. Konflik itu
    diikuti oleh polarisasi kekuatan politik dan militer
    yang semakin meningkat, sehingga dapat disimpulkan
    bahwa sewaktu-waktu konflik bisa mengarah ke suatu
    kondisi yang mengkhawatirkan. Sebab Bung Karno adalah
    pemimpin yang kharismatik yang didukung oleh rakyat
    dan sebagian besar perwira Angkatan Bersenjata,
    kecuali sebagian kecil perwira AD.
    Di sisi lain, PKI saat itu memiliki massa dalam jumlah sangat besar. Bisa
    dibayangkan apa yang bakal terjadi jika konflik ini
    semakin tajam.
    saat konflik meningkat itulah justru Soeharto
    bersyukur bahwa Untung menjadi salah satu komandan
    Batalyon Kawal Istana Cakra Bhirawa. Kedudukan Untung
    di sana menjadi titik strategis dipandang dari sisi
    Soeharto yang menunggu momentum untuk merebut
    kekuasaan negara.Maka hubungan Soeharto-Untung
    kembali membaik, meskipun beberapa waktu sebelumnya
    Soeharto sempat marah dan membenci Untung.Bukti
    membaiknya hubungan itu adalah bahwa beberapa waktu
    kemudian, di akhir 1964, Untung menikah di Kebumen dan
    Soeharto bersama istrinya, Ny. Soehartinah (Tien)
    menghadiri resepsinya di Kebumen.
    Seorang komandan menghadiri pernikahan bekas anak-buah
    adalah hal yang sangat wajar, memang. Tetapi jarak
    antara Jakarta-Kebumen tidak dekat. Apalagi saat itu
    sarana transportasi dan terutama kondisi jalan sangat
    tak memadai. Jika tak benar-benar sangat penting,
    tidak mungkin Soeharto bersama istrinya menghadiri
    pernikahan Untung.

    Langkah Soeharto mendekati Untung
    ini terbaca di kalangan elite politik dan militer saat
    itu, tetapi mereka hanya sekadar heran pada perhatian
    Soeharto terhadap Untung yang begitu besar.
    Soeharto juga membina persahabatan lama
    dengan Kolonel Abdul Latief yang juga bekas
    anak-buahnya di Divisi Diponegoro. Latief adalah juga
    seorang tentara pemberani. Ia adalah juga seorang yang
    jujur. Namun, berbeda dengan Untung, Latief
    mengantongi rahasia skandal Soeharto dalam Serangan
    Oemoem 1 Maret 1949 di Yogya. Dalam serangan itu
    Belanda diusir dari Yogya (ketika itu ibu-kota RI)
    hanya dalam waktu enam jam. Soeharto (di kemudian hari) mengklaim keberhasilan
    mengusir Belanda itu atas keberaniannya. Serangan
    Oemoem 1 Maret 1949 itu katanya, adalah ide dia. Soal
    ini sudah diungkap di berbagai buku, bahwa serangan
    tersebut adalah ide Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
    Soeharto adalah komandan pelaksana serangan. Namun
    bagi Latief persoalan ini terlalu tinggi. Latief hanya
    merupakan salah satu komandan kompi. Hanya saja
    karena dia kenal Soeharto sewaktu masih sama-sama di
    Kodam Diponegoro, ia dekat dengan Soeharto. Letief
    tidak bicara soal ide serangan. Ia hanya bicara soal
    teknis pertempuran.
    Tentara kita menyerbu kota dari berbagai penjuru mulai
    pukul 06.00 WIB, persis saat sirene berbunyi tanda jam
    malam berakhir. Diserbu mendadak oleh kekuatan yang
    begitu besar, Belanda terkejut. Perlawanan mereka sama
    sekali tidak berarti bagi pasukan kita. Mereka sudah
    kalah strategi, diserang mendadak dari berbagai
    penjuru kota oleh pasukan yang jumlahnya demikian
    banyak. Tangsi-tangsi Belanda banyak yang berhasil
    direbut tentara kita. Namun Belanda sempat minta
    bantuan pasukan dari kota lain. Walaupun bala bantuan
    pasukan Belanda datang agak terlambat, namun mereka
    memiliki persenjataan yang lebih baik dibanding
    tentara kita. Mereka juga mengerahkan kendaraan lapis
    baja. Pada saat itulah terjadi pertempuran hebat di
    seantero Yogyakarta.
    Pada scope lebih kecil, kelompok pasukan pimpinan
    Latief kocar-kacir digempur serangan balik pasukan
    Belanda. Dalam kondisi seperti itu Latief
    memerintahkan pasukannya mundur ke Pangkalan Kuncen
    sambil tetap berupaya memberikan tembakan balasan.
    Setelah di garis belakang, Latief memeriksa sisa
    pasukan. Ternyata tinggal 10 orang tentara. Di saat
    mundur tadi sekilas diketahui 12 orang terluka dan 2
    orang gugur di tempat. Mereka yang luka terpaksa
    ditinggal di medan pertempuran, sehingga kemungkinan
    besar juga tewas, sedangkan pemuda gerilyawan (juga di
    bawah kompi Latief) yang tewas 50 orang.
    Nah, saat Latief bersama sisa pasukannya berada di
    garis belakang itulah mereka berjumpa Soeharto. Apa
    yang sedang dilakukan Soeharto? Dia sedang santai
    makan soto babat, ujar Latief. Ketika itu perang
    sedang berlangsung. Ribuan tentara dan pemuda
    gerilyawan tengah beradu nasib menyabung nyawa,
    merebut tanah yang diduduki oleh penjajah. Toh, Latief
    dengan sikap tegap prajurit melapor kepada Soeharto
    tentang kondisi pasukannya. Soeharto ternyata juga
    tidak berbasa-basi misalnya menawari Latief dan
    anak-buahnya makan. Sebaliknya Soeharto langsung
    memerintahkan Latief bersama sisa pasukannya untuk
    menggempur belanda yang ada di sekitar Kuburan Kuncen,
    tidak jauh dari lokasi mereka.
    Belanda akhirnya berhasil diusir dari Yogyakarta dalam
    tempo enam jam. Secara keseluruhan dalam pertempuran
    itu pasukan kita menang, meskipun dalam scope kecil
    pasukan pimpinan Latief kocar-kacir. Komandan dari
    seluruh pasukan itu adalah Soeharto yang - boleh saja
    - menepuk dada membanggakan keberaniannya. Bahkan
    Soeharto kemudian bertindak jauh lebih berani lagi
    dengan mengakui bahwa ide serangan itu dalah idenya
    (yang kini terbukti tidak benar). Namun soal Soto
    babat menjadi skandal tersendiri bagi figur seorang
    komandan pasukan tempur di mata Latief. Dan skandal
    ini diungkap oleh Latief pada saat dia diadili di
    Mahkamah Militer dengan tuduhan terlibat G30S.
    Setelah Serangan Oemoem 1 Maret, Soeharto-Latief pisah
    kesatuan. Soeharto akhirnya menjadi Pangkostrad,
    sementara Latief akhirnya menjadi Komandan Brigade
    Infanteri I Jaya Sakti, Kodam Jaya. Posisi Latief
    cukup strategis. Maka Soeharto kembali membina
    hubungan lama dengan Latief .Latief juga
    didatangi di rumahnya oleh Soeharto dan istrinya saat
    Latief mengkhitankan anaknya.suatu saat nanti Latief akan dimanfaatkan
    oleh Soeharto.
    Jika dulu Soeharto
    membentuk trio bersama Yoga Soegama dan Ali Moertopo,
    kini bersama Untung dan Latief.Untung adalah orang dekat Presiden. Latief adalah
    orang penting di Kodam Jaya yang menjaga keamanan
    Jakarta. Targetnya jelas: menuju ke Istana.mereka bisa memperkuat apa yang sudah dirintis oleh Nasution, yakni: menciptakan Negara dalam Negara.
    Sebab konflik antara Bung Karno dan AD sudah semakin
    tajam.

  6. #5
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Soeharto juga dekat dengan
    Brigjen Soepardjo (berasal dari Divisi Siliwangi yang
    kemudian ditarik Soeharto ke Kostrad menjabat
    PangKopur II).Pertengahan September 1965 Latief menemui Soeharto. Inilah
    pertemuan pemting pertama antara Soeharto dan Latief
    menjelang G30S. Latief melaporkan isu
    tersebut kepada Soeharto. Ternyata Soeharto menyatakan
    bahwa ia sudah tahu.Pada saat yang hampir bersamaan, pada 15 September
    1965 Untung mendatangi Soeharto. Untung juga
    melaporkan adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan
    kup. Berbeda dengan Latief, Untung menyatakan bahwa ia
    punya rencana akan mendahului gerakan Dewan Jenderal
    dengan menangkap mereka lebih dulu, sebelum mereka
    melakukan kudeta. Untung memang merupakan pembantu
    setia Bung Karno. Dalam posisinya sebagai salah satu
    komandan Pasukan Kawal Istana Cakra Bhirawa, sikapnya
    sudah benar.

    apa jawab Soeharto? Bagus kalau kamu punya rencana
    begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu, kata Soeharto.
    Malah Soeharto menawarkan bantuan pasukan kepada
    Untung:Untung gembira mendapat dukungan. Ia menerima tawaran
    bantuan tersebut. Dan Soeherto juga tidak main-main:
    Baik. Dalam waktu secepatnya akan saya datangkan
    pasukan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, katanya.
    Harap dicatat: pertemuan Soeharto dengan Latief tidak
    berkaitan dengan pertemuan Soeharto dengan Untung.

    Pada awalnya hubungan Soeharto-Untung terpisah dari
    hubungan Soeharto-Latief dalam hal Dewan Jenderal.
    Namun mereka sama-sama dari Kodam Diponegoro. Hubungan
    Untung-Latief juga terjalin baik meskipun sudah
    berpisah kesatuan. Akhirnya mereka tahu bahwa Soeharto
    mendukung gerakan menangkap Dewan Jenderal.
    Beberapa hari sebelum 1 Oktober 1965, atas perintah Soeharto
    didatangkan beberapa batalyon pasukan dari Semarang,
    Surabaya dan Bandung. Perintahnya berbunyi: Pasukan
    harus tiba di Jakarta dengan perlengkapan tempur
    Siaga-I. Lantas secara bertahap pasukan tiba di
    Jakarta sejak 26 September 1965. Jelas, pasukan ini
    didatangkan khusus untuk menggempur Dewan Jenderal.
    Setelah G30S meletus dan Soeharto balik menggempur
    pelakunya, lantas ia menuduh gerakan itu didalangi
    PKI. Soeharto membuat aneka cerita bohong. Soal
    kedatangan pasukan dari Bandung, Semarang dan Surabaya
    itu dikatakan untuk persiapan upacara Hari ABRI 5
    Oktober.Rombongan pasukan tiba di Jakarta sejak 26 September
    1965 dengan persiapan tempur Siaga-I. Ini jelas tidak
    masuk akal jika dikaitkan dengan Hari ABRI.
    Pertemuan penting kedua Soeharto-Latief terjadi dua
    hari menjelang 1 Oktober 1965. Pertemuan dilakukan di
    rumah Soeharto di Jalan H Agus Salim.ketika itu ia melaporkan kepada Soeharto
    bahwa Dewan Jenderal akan melakukan kudeta terhadap
    Presiden. Dan Dewan Jenderal akan diculik oleh Pasukan
    Cakra Bhirawa. Apa reaksi Soeharto? Dia tidak
    bereaksi.
    Pertemuan terakhir Soeharto-Latief terjadi persis pada
    tanggal 30 September 1965 malam hari pukul 23.00 WIB
    di RSPAD Gatot Subroto. Saat itu Soeharto menunggu
    anaknya Hutomo Mandala Putera (Tommy Soeharto) yang
    ketumpahan sup panas dan dirawat di sana. Kali ini
    Latief melaporkan penculikan para jenderal akan
    dilaksanakan pukul 04.00 WIB (sekitar lima jam
    kemudian). Kali ini juga tidak ditanggapi oleh
    Soeharto.Sebenarnya yang akan melapor kepada Soeharto saat itu
    tiga orang, yakni Latief, Brigjen Soepardjo dan Letkol
    Untung. Sebelum Latief menghadap Soeharto, Latief
    lebih dulu bertemu dengan Soepardjo dan Untung.
    Setelah Latief bertemu Soeharto, ia lantas kembali
    menemui Soepardjo dan Untung yang menunggu di suatu
    tempat. Latief dengan wajah berseri-seri melaporkan
    kepada teman-temannya bahwa Soeharto berada di
    belakang mereka.
    Pada sekitar pukul 01.00 WIB 1 Oktober
    1965, kata Latief kepada Soepardjo dan Untung:
    Soeharto berada di belakang mereka.
    Beberapa jam kemudian pasukan bergerak mengambil para
    jenderal.

    aa-pulsajaya

  7. #6
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Menurut pengakuan Soeharto, menjelang dini hari 1
    Oktober 1965 ia meninggalkan anaknya di RSPAD Gatot
    Subroto dan pulang ke rumahnya di Jalan H Agus Salim.
    Menurutnya, saat meninggalkan RSPAD itu ia sendirian
    (tanpa pengawal) dengan mengendarai jeep Toyota. Dari
    RSPAD mobilnya melewati depan Makostrad, lantas masuk
    ke Jalan Merdeka Timur. Ia mengaku di sana sempat
    merasakan suasana yang tidak biasa. Di sekitar Jalan
    Merdeka Timur berkumpul banyak pasukan, tetapi
    Soeharto terus berlalu dan tidak menghiraukan puluhan
    pasukan yang berkumpul di Monas.
    Setelah itu Soeharto mengaku pulang ke rumah dan tidur
    (ini dikatakan Soeharto di beberapa kesempatan
    terbuka). Lantas pagi harinya pukul 05.30 WIB dia
    mengaku dibangunkan oleh seorang tetangganya dan
    diberitahu bahwa baru saja terjadi penculikan terhadap
    para jenderal. Setelah itu saya langsung menuju ke
    markas Kostrad, kata Soeharto.
    Pengakuan Soeharto itu luar biasa aneh:
    1. di saat Jakarta dalam kondisi sangat tegang ia
    menyetir mobil sendirian, tanpa pengawal. Jangankan
    dalam situasi seperti itu, dalam kondisi biasa saja ia
    selalu dikawal.
    2. ia melewati Jalan Merdeka Timur dan mengaku
    melihat puluhan prajurit berkumpul dan merasakan
    sesuatu yang tidak biasa, tetapi tidak dia hiraukan.
    Sebagai seorang komandan pasukan, tidakkah dia ingin
    tahu apa yang akan dilakukan oleh puluhan prajurit
    yang berkumpul pada tengah malam seperti itu?
    3. pada pagi hari 1 Oktober 1965 pukul 05.30 WIB
    siapa yang bisa mengetahui bahwa baru saja terjadi
    penculikan terhadap para jenderal? Saat itu belum ada
    berita televisi seperti sekarang (semisal Liputan 6
    Pagi SCTV) yang dengan cepat bisa memberitakan suatu
    kejadian beberapa jam sebelumnya. Radio RRI saja baru
    memberitakan peristiwa itu pada pukul 07.00 WIB.

    Yang sebenarnya terjadi:
    Soeharto sudah tahu bahwa pasukan yang berkumpul di
    dekat Monas itu akan bergerak mengambil para anggota
    Dewan Jenderal. Toh dia sendiri yang mendatangkan
    sebagian besar (kira-kira dua-pertiga) pasukan
    tersebut dari Surabaya, Semarang dan Bandung. Ingat:
    Soeharto menawarkan bantuan pasukan yang diterima
    dengan senang hati oleh Untung.
    Pasukan dari daerah dengan perlengkapan tempur Siaga-I
    itu bergabung dengan Pasukan Kawal Istana Cakra
    Bhirawa pimpinan Untung. Mereka berkumpul di dekat
    Monas. Selain itu, beberapa jam sebelumnya Soeharto
    menerima laporan dari Latief bahwa pasukan sudah dalam
    keadaan siap mengambil para jenderal. Maka wajar saja
    tengah malam itu Soeharto mengendarai jeep sendirian,
    meskipun Jakarta dalam kondisi sangat tegang. Malah
    ia dengan tenangnya melewati tempat berkumpulnya
    pasukan yang beberapa saat lagi berangkat membunuh
    para jenderal. Bagi Soeharto tidak ada yang perlu
    ditakutkan.
    Ia justru melakukan kesalahan fatal dengan mengatakan
    kepada publik bahwa ia sempat melihat sekelompok
    pasukan berkumpul di dekat Monas dan ia membiarkan
    saja. Jika ia memposisikan diri sebagai orang yang
    tidak tahu rencana pembunuhan para jenderal, mestinya
    ia tidak menyatakan seperti itu dalam buku biografinya
    dan di berbagai kesempatan terbuka.
    Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa tengah malam itu
    ia tidak pulang ke rumah seperti ditulis dalam buku
    biografinya. Yang benar: setelah melewati Jalan
    Merdeka Timur dan melihat persiapan sekumpulan
    pasukan, ia lantas menuju ke Markas Kostrad. Di
    Makostrad ia memberi pengarahan kepada sejumlah
    pasukan bayangan dan operasi Kostrad yang mendukung
    gerakan pengambilan para jenderal. Dengan kronologi
    yang sebenarnya ini, maka seharusnya tidak perlu ada
    cerita Soeharto pulang ke rumah lantas tidur.
    Dengan pengakuannya itu Soeharto rupanya ingin
    menunjukkan seolah-olah ia jujur dengan mengatakan
    bahwa pada dini hari 1 Oktober 1965 ia memang berada
    di Makostrad. Tapi prosesnya dari RSPAD, pulang dulu,
    lantas tidur, dibangunkan tetangga dan diberitahu ada
    penculikan pukul 05.30 WIB, baru kemudian berangkat ke
    Makostrad.
    Kalau Soeharto memposisikan diri sebagai orang yang
    tidak bersalah dalam G30S, maka pengakuannya itu
    merupakan kesalahan yang sangat fatal. Sebab tidak
    mungkin ada orang yang tinggal di Jalan H Agus Salim
    (tetangga Soeharto) mengetahui ada penculikan para
    jenderal dan membangunkan tidur Soeharto pada pukul
    05.30 WIB. Padahal penculikan dan pembunuhan para
    jenderal baru terjadi beberapa menit sebelumnya,
    sekitar pukul 04.00 WIB.

  8. #7
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Satu pertanyaan sangat penting dari tragedi pagi buta
    1 Oktober 1965 adalah mengapa para jenderal itu tidak
    dihadapkan kepada Presiden Soekarno. Logikanya jika
    anggota Dewan Jenderal diisukan akan melakukan kudeta,
    mestinya dihadapkan ke Presiden Soekarno untuk diminta
    penjelasannya tentang isu rencana kudeta. Masalahnya
    tentu bakal menjadi lain jika para jenderal tidak
    dibunuh, tetapi diajukan kepada Presiden untuk
    konfirmasi.
    Namun G30S sebagai suatu kekuatan sebenarnya sudah
    ditentukan jauh sebelum peristiwanya meletus. Dari
    perspektif Soeharto, masa hidup gerakan ini tidak
    ditentukan oleh kekuatannya melainkan oleh masa
    kegunaannya. Setelah para jenderal dibantai, maka
    habislah masa kegunaan G30S. Dan sejak itu pula masa
    hidupnya harus diakhiri. Meskipun Untung, Latief dan
    Soepardjo berupaya ingin mempertahankan kelanggengan
    G30S, tetapi umurnya hanya beberapa jam saja. Setelah
    itu pelakunya diburu dan dihabisi. Soeharto dengan
    melikuidasi G30S menimbulkan kesan bahwa ia setia
    kepada atasannya, Yani dan teman-teman jenderal yang
    dibunuh. Ia tampil sebagai pahlawan.

    Soal Mengapa Dewan Jenderal diculik, bukan dihadapkan
    ke Presiden, ada pengakuan dari salah satu pelaku
    penculikan. Menurut Serma Boengkoes (Komandan Peleton
    Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan) yang memimpin
    prajurit penjemput Mayjen MT Haryono, di militer tidak
    ada perintah culik. Yang ada adalah tangkap atau
    hancurkan. Perintah yang saya terima dari Komandan
    Resimen Cakra Bhirawa Tawur dan Komandan Batalyon
    Untung adalah tangkap para jenderal itu, kata
    Boengkoes setelah ia bebas dari hukuman.
    Namun MT Haryono terpaksa dibunuh sebab rombongan
    pasukan tidak diperbolehkan masuk rumah oleh istri MT
    Haryono. Sang istri curiga, suaminya dipanggil
    Presiden kok dini hari. Karena itu pintu rumah
    tersebut didobrak dan MT Haryono tertembak. Tidak
    jelas apakah Haryono langsung tewas di tempat atau
    dibunuh kemudian setelah semua jenderal dikumpulkan di
    Pondok Gede (Lubang Buaya).
    Sedangkan saat dijemput oleh sejumlah pasukan di
    rumahnya, Letjen A Yani terkejut. Bukan karena
    penjemputnya pasukan berseragam loreng, tetapi karena
    pada hari itu ia memang dijadwalkan untuk menghadap
    Presiden Soekarno di Istana Merdeka, pada pukul 08.00
    WIB. Presiden sedianya akan bertanya kepada Yani soal
    Angkatan Kelima. Yani menolak ide Presiden tentang
    Angkatan Kelima sejak beberapa waktu sebelumnya. Malah
    sudah beredar isu bahwa Yani akan digantikan oleh
    wakilnya yaitu Gatot Subroto.
    Dengan dijemput tentara dini hari mungkin Yani merasa
    pertemuan dengan Presiden Soekarno diajukan beberapa
    jam. Ia dibangunkan dari tidurnya oleh istrinya dan
    masih mengenakan piyama. Meskipun kedatangan tentara
    penjemputnya menimbulkan kegaduhan di keluarga Yani
    yang terkejut, namun Yani menurut. Ia menyatakan
    kepada penjemputnya akan ganti pakaian. Tetapi ketika
    tentara penjemputnya menyatakan Tidak perlu ganti
    baju, jenderal, maka seketika Yani menempeleng tentara
    tersebut. Perkataan prajurit seperti itu terhadap
    jenderal memang sudah luar biasa tidak sopan. Lantas
    Yani masuk ke kamar untuk ganti pakaian. Yani
    diberondong tembakan.
    eristiwa berdarah di pagi buta pada
    tanggal 1 Oktober 1965 (G30S) itu sampai kini masih
    ditafsirkan secara berbeda-beda, baik di dalam maupun
    di luar negeri. Tetapi jelas substansi peristiwa itu
    tidak seperti mitos yang dibuat AD yakni percobaan
    kudeta yang didalangi oleh PKI. Versi AD ini sama
    sekali tidak benar. Peristiwa itu merupakan provokasi
    yang didalangi oleh jenderal-jenderal fasis AD
    didukung dengan baik oleh imperialisme internasional.

    Peristiwa itu adalah provokasi yang dimanipulasi
    secara licik dan efektif serta dikelola secara
    maksimal oleh seorang fasis berbaju kehalusan feodal
    Jawa yang haus kekuasaan dan harta. Dialah Panglima
    Kostrad Mayjen Soeharto.
    peristiwa itu bukan hanya merupakan
    puncak manifestasi konflik antara pimpinan AD dan PKI,
    tetapi juga pertentangan antara pemimpin politik
    konservatif dengan aspirasi kapitalisme yang
    pembangunannya bergantung pada imperialisme
    internasional di satu fihak, melawan PKI dengan
    prinsip politik anti-imperialisme dengan aspirasi
    negara yang merdeka penuh dan demokrasi berkeadilan
    sosial di pihak lain.
    Peristiwa itu adalah puncak kemunafikan para pemimpin
    politik konsevatif yang mengklaim sebagai paling
    demokrat dari sistim demokrasi parlementer. Mereka
    berhadapan dengan kemajuan-kemajuan pesat PKI yang
    dicapai secara damai dalam sistim demokrasi liberal.
    Dari konflik tersebut para pimpinan AD dan sekutunya
    lantas mencabut hak hidup PKI dengan cara mambantai
    anggota dan keluarganya, lantas membubarkan PKI.


    Sekitar pukul 14.00 WIB - masih pada 1 Oktober 1965 -
    kepada Kapten Kuntjoro (ajudan Komandan Cakra bhirawa
    Letkol Marokeh) Soeharto menyatakan bahwa ia adalah
    anggota Dewan Jenderal. Saat itu pembunuhan terhadap
    para jenderal sudah selesai. Nasution yang lolos dari
    target penculikan sedang diamankan di Markas Kostrad.
    Saya berkesimpulan Soeharto berani mengatakan bahwa
    dirinya adalah anggota Dewan Jenderal setelah ia yakin
    bahwa posisinya aman, sehingga tidak perlu lagi
    menutupi wajahnya. Kepada Kapten Kuntjoro Soeharto
    mengatakan: Dewan Jenderal memang ada. Saya termasuk
    anggotanya. Tapi itu dewan untuk mengurus kepangkatan,
    bukan untuk kudeta.

  9. #8
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Pernyataan Soeharto ini menunjukkan betapa Soeharto
    berdiri di dua sisi. Ketika Untung menyatakan akan
    menghabisi Dewan Jenderal, Soeharto mendukung, bahkan
    membantu pasukan. Setelah Dewan Jenderal dihabisi ia
    menyatakan bahwa ia adalah anggota Dewan Jenderal.
    Namun pada hari itu (Jumat 1 Oktober 1965) kondisi
    negara benar-benar tidak menentu. Berbagai pihak
    saling memanfaatkan situasi. Pengumuman pertama
    tentang penculikan para jenderal melalui RRI disiarkan
    oleh Untung. Intinya diumumkan bahwa kelompok Dewan
    Jenderal yang akan melakukan kudeta sudah digagalkan.
    Anggota Dewan Jenderal sudah diculik dan Presiden
    Soekarno dalam keadaan aman. Untuk sementara
    pemerintahan dikendalikan oleh Dewan Revolusi. Maka
    diumumkan anggota Dewan Revolusi. Di sana tidak ada
    nama Soekarno.
    Pengumuman demi pengumuman terus berkumandang di
    radio. Setelah Untung beberapa kali menyampaikan
    pengumuman, lalu disusul oleh Oemar Dhani. Masyarakat
    bingung. Sekitar pukul 21.00 WIB Soeharto berpidato
    di radio dan mengumumkan bahwa pagi hari itu telah
    terjadi penculikan terhadap sejumlah perwira tinggi
    oleh kelompok pimpinan Untung. Tindakan tersebut
    adalah kudeta kontra-revolusioner melawan Presiden
    Soekarno. Juga diumumkan bahwa Soeharto mengambil
    kendali AD (Menpangad) karena Menpangad A Yani
    diculik.
    Perubahan demi perubahan dalam sehari itu benar-benar
    membingungkan Bung Karno. Ia tidak tahu apa yang
    sesungguhnya terjadi. Ia tidak tahu siapa sedang
    berperang melawan siapa, karena ia tidak tahu rencana
    penculikan Dewan Jenderal. Bung Karno juga heran
    dengan pengumuman Soeharto mengambil-alih kendali AD.
    Padahal beberapa jam sebelumnya (siang hari) Bung
    Karno sudah memutuskan untuk mengambil-alih fungsi dan
    tugas-tugas Menpangad serta menunjuk Mayjen Pranoto
    Rekso sebagai pelaksana sehari-hari (care-taker)
    Menpangad.
    Esoknya, 2 Oktober 1965 Soeharto didampingi oleh Yoga
    Soegama dan anggota kelompok bayangannya mendatangi
    Bung Karno di Istana Bogor. Soeharto bersama rombongan
    mengenakan pakaian loreng dan bersenjata masuk Istana.
    Kedatangan Soeharto ini tidak pernah disebut dalam buku-buku sejarah atau buku
    kesaksian pelaku sejarah.

    Intinya, Soeharto
    menyatakan tidak setuju terhadap pengangkatan Mayjen
    Pranoto untuk memegang pelaksana komando AD. Selain
    protes, Soeharto juga meminta agar Bung Karno
    memberikan kuasa kepada Soeharto untuk memulihkan
    keamanan. Juga meminta Presiden mengambil tindakan
    terhadap pimpinan AU yang diduga terlibat dalam G30S.
    Karena persoalan cukup rumit Bung Karno menunda
    pembicaraan dan memanggil para panglima AU, AL,
    Kepolisian, Mayjen Pranoto dan Mayjen Mursid. Setelah
    mereka berkumpul baru diadakan rapat bersama Soeharto
    untuk membahas semua tuntutan Soeharto itu. Rapat
    berlangsung alot sekitar lima jam. Akhirnya Bung Karno
    memberi surat kuasa kepada Soeharto untuk memulihkan
    keamanan (sebagai Panglima Pemulihan Keamanan).
    Inilah awal Soeharto memetik kemenangan dari rangkaian
    proses kudeta merangkak itu.
    Surat kuasa yang diterima oleh Soeharto saat itu juga
    merupakan surat kuasa pertama. Namun ini tidak pernah
    disebut dalam sejarah. Mungin kalau disebut dalam
    sejarah akan terasa aneh. Presiden adalah Panglima
    Tertinggi ABRI yang pegang kendali militer. Pembunuhan
    para jenderal baru terjadi sehari sebelumnya. Itu pun
    beberapa jam kemudian Presiden sudah mengeluarkan
    instruksi untuk ABRI. Ini menunjukkan bahwa Presiden
    masih memegang kendali militer. Bahkan Presiden sudah
    mengambil-alih tugas Menpangad karena Menpangad Yani
    diculik. Maka kedatangan Soeharto minta surat kuasa
    untuk memulihkan keamanan, apa namanya kalau bukan
    memotong kewenangan Presiden?
    proses keluarnya surat
    kuasa itu sangat alot. Dalam rapat Soeharto menekan
    Soekarno. Tetapi kalau kita kembali mengingat bahwa
    sehari sbelumnya Soeharto melalui RRI sudah menyatakan
    mengambil-alih pimpinan AD, maka wajar bahwa surat
    kuasa itu dikeluarkan. Sebelum surat kuasa dikeluarkan
    saja Soeharto sudah berani mengambil-alih pimpinan AD.
    Sebelum Soeharto dan kelompok bayangannya meninggalkan
    Istana Bogor, Soeharto menyatakan agar Presiden tidak
    meninggalkan Istana Bogor demi keamanan. Sejak itu
    Presiden Soekarno sudah menjadi tawanan Soeharto.

    Hebatnya, beberapa waktu kemudian Soeharto membantah
    menerima surat kuasa dari Presiden. Dia menyatakan
    kurang lebih demikian: Dalam kehidupan militer tidak
    mungkin ada dua panglima (dia dan Mayjen Pranoto yang
    sudah ditunjuk oleh Presiden menjadi caretaker
    Menpangad) yang ditunjuk dalam waktu bersamaan. Maka
    praktis pengangkatan terhadap mayjen Pranoto sebagai
    caretaker Menpangad tidak berjalan sama sekali.
    Inilah awal kudeta terselubung itu. Sejak itu
    sebenarnya Bung Karno sudah tidak lagi memiliki power
    untuk memimpin negara.
    Esoknya pembantaian terhadap anggota PKI dan
    keluarganya dimulai. PKI dituduh menjadi dalang G30S.
    Sejak itu Indonesia banjir darah. Yang digempur bukan
    hanya tokoh-tokoh PKI, tetapi semua yang berbau PKI
    dibantai tanpa proses hukum. Di kota, desa, dusun, di
    berbagai sudut negeri dilakukan pembantaian
    besar-besaran, suatu tindakan yang sangat mengerikan.
    Pembantaian PKI dimulai beberapa saat setelah Presiden
    Soekarno mengumumkan (3 Oktober 1965) Pangkostrad
    Mayjen Soeharto dipercaya sebagai pelaksana Komando
    Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).
    Pada tanggal 16 Oktober 1965 Presiden Soekarno
    mengangkat Soeharto menjadi Menpangad, menggantikan A
    Yani. Lantas pada akhir Oktober 1965 di rumah Menteri
    Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Brigjen Syarif
    Thayeb, atas perintah Soeharto dibentuklah Kesatuan
    Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Inilah embrio gerakan
    mahasiswa yang didukung oleh tentara. KAMI lantas
    sering berdemo dengan didukung oleh pasukan RPKAD dan
    Kostrad.

  10. #9
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Drama 1 Oktober 1965 dalam sekali pukul menghasilkan
    keuntungan bagi Soeharto:

    1. Mengubah kenyataan adanya komplotan Dewan
    Jenderal, di mana Soeharto merupakan salah satu
    anggotanya, menjadi semacam fiksi belaka.
    2. Sebaliknya mengubah fiksi menjadi nyata bahwa
    yang sungguh-sungguh melakukan kudeta bukanlah Dewan
    Jenderal, melainkan G30S pimpinan Untung (yang
    sebenarnya disokong oleh Soeharto).
    3. Melikuidasi kelompok Yani sebagai rival
    potensial Soeharto.
    4. Membuka peluang Soeharto tampil sebagai
    pahlawan yang akhirnya benar-benar terwujud.

    proses kudeta merangkak belum berakhir.
    Manuver Soeharto merebut kekuasaan tertinggi ada empat
    tahap:
    1. menyingkirkan saingan beratnya sesama perwira
    tertinggi.
    2. Menghabisi PKI, partai besar yang akrab dengan
    Bung Karno
    3. Melumpuhkan para menteri pembantu presiden
    4. Melumpuhkan Bung Karno.

    Mengapa harus empat tahap? Jawabnya adalah bahwa
    sebelum G30S Soeharto bukan perwira yang
    diperhitungkan. Karena selain pangkatnya masih Mayjen,
    ia juga pernah memiliki cacat saat menyelundupkan
    barang di Jateng sehingga untuk mencapai pimpinan
    puncak ia harus melewati proses panjang.
    Untuk mengimbangi - lebih tepat melumpuhkan -
    sisa-sisa kekuatan Bung Karno, Soeharto mengerahkan
    mahasiswa. Seperti disebut di bagian terdahulu, pada
    akhir Oktober 1965 di rumah Brigjen Sjarif Thajeb,
    atas perintah Soeharto dibentuk KAMI. Nah, sejak itu
    demo mahasiswa didukung oleh tentara terus bergerak
    mengkritik Presiden Soekarno. Saat itulah muncul
    slogan Tritura (tri atau tiga tuntutan rakyat):
    1. bubarkan PKI
    2. bersihkan anggota kabinet dari unsur-unsur PKI
    3. turunkan harga kebutuhan pokok.
    Bung Karno - yang masih menjabat sebagai presiden -
    lantas membubarkan KAMI. Tetapi setelah KAMI bubar
    muncul kelompok sejenis berganti nama menjadi KAPPI
    (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia).
    Tujuannya tetap sama: berdemo mengkritik Presiden
    Soekarno. Dan karena demo itu didukung oleh tentara
    tentu saja para pemuda dan mahasiswa berani
    Sementara itu harga kebutuhan pokok rakyat memang
    melambung tinggi. Saya tahu persis melonjaknya harga
    itu terjadi karena rekayasa Soeharto. Tepatnya
    Soeharto dibantu oleh dua pengusaha Cina: Liem Sioe
    Liong (dulu bekerjasama menyelundupkan barang) dan Bob
    Hasan (juga teman Soeharto sewaktu di Jawa Tengah).
    Itu dilakukan di tenggang waktu antara Oktober 1965
    sampai Maret 1966. Akibat selanjutnya: inflasi
    melambung sampai 600%, defisit anggaran belanja negara
    semakin parah sampai 300%. Rakyat tercekik. Untuk
    membeli beras, gula dan minyak orang harus antri.
    Tentang hubungan bisnis Soeharto dengan Liem Sioe
    Liong dan Bob Hasan di Jateng yang paling tahu adalah
    Mayjen Pranoto. Saat Soeharto sebagai Panglima Divisi
    Diponegoro, Pranoto adalah kepala stafnya. Pranoto
    sudah sangat jengkel pada Soeharto perihal bisnis
    memanfaatkan jabatan yang dilakukan Soeharto, dibantu
    Liem Sioe Liong dan Bob Hasan.
    ulah Soeharto dan Liem menyelundupkan
    barang dulu dibongkar oleh Pranoto sehingga akhirnya
    diketahui Menpangad Yani, sampai-sampai Yani
    menempeleng Soeharto. Jadi tindakan Soeharto menjegal
    Pranoto yang diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi
    caretaker Menpangad (1 Oktober 1965) bukan semata-mata
    perebutan jabatan (dengan cara kotor) tetapi juga ada
    faktor dendam pribadinya.

    Namun gerakan mahasiswa ternyata ditanggapi Bung
    Karno. Pada 15 Januari 1966 dalam
    Sidang Kabinet Presiden Soekarno berpidato menjawab
    Tritura yang dikobarkan oleh
    mahasiswa. Menurut Presiden Soekarno Tritura adalah
    hasil rekayasa TNI AD.
    cuplikan pidato Soekarno yang sebagian sempatdr.soebandrio
    catat. Bunyinya demikian: Saya
    tidak akan mundur sejengkal pun. Saya tetap Pemimpin
    Besar Revolusi. Maka saya tidak
    dapat bicara lain. Ayo .Siapa yang membutuhkan
    Soekarno, setuju dengan Soekarno
    sebagai Pemimpin Besar Revolusi, maka satukan seluruh
    kekuatanmu. Pertahankan
    Soekarno. Berdirilah di belakang Soekarno. Tunggu
    komando
    Inilah pernyataan Bung Karno di depan publik yang
    paling keras. Dengan pidato Bung Karno yang
    berapi-api, semua pihak menjadi cemas. Bung Karno
    masih punya pendukung, termasuk dari Angkatan
    Bersenjata. Para menterinya masih lengkap. Jabatannya
    masih Presiden RI. Maka semua pihak khawatir Indonesia
    bakal memasuki pergolakan sangat hebat dalam waktu
    dekat dan bakal terjadi pertumpahan darah yang jauh
    lebih besar dari G30S.
    Pada tanggal 20 Januari 1966 para menteri berkumpul di
    Istana. Mereka menyatakan sepakat menjadi bagian
    paling depan dari pendukung Soekarno. Itu merupakan
    bagian dari upaya pendukung Soekarno untuk come back,
    walaupun secara formal Soekarno masih Presiden-RI, pun
    secara formal pendukung terdepan masih Menteri Negara.
    Namun Bung Karno tidak melakukan follow-up, tidak ada
    tindak-lanjut dari pidatonya yang keras itu. Tidak ada
    perintah apa pun meski ia tahu pendukungnya sudah siap
    membela. Para pendukungnya pun tidak bergerak sebab
    dalam pidatonya Bung Karno antara lain menyerukan:
    tunggu komando Seruan ini ditaati para pendukungnya.
    Dan komando ternyata tidak juga kunjung datang.
    Seandainya komando benar-benar diserukan, saya tidak
    bisa membayangkan bagaimana jadinya Indonesia.


    sumber:

    [Nusantara] CUPLIKAN PENGAKUAN DR. SOEBANDRIO TETANG TRAGEDI NASIONAL 30 SEPTEMBER

  11. #10
    Moderator h4ck_Z's Avatar
    Join Date
    Aug 2008
    Location
    Makassar
    Posts
    707
    Thanks
    175
    Thanked 529 Times in 133 Posts
    Rep Power
    12

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    wah.... nambah2 ilmu nih...
    thanks ya bro.. maKLum lagi belajar + nilai sejarah gua JELEK

  12. #11
    Beginner Member RICHIEGUNAWAN's Avatar
    Join Date
    Mar 2008
    Location
    RICHIE PONSEL Jl.Urip S no76 Rantauprapat (0624)23807/08126590599
    Posts
    70
    Thanks
    148
    Thanked 18 Times in 16 Posts
    Rep Power
    7

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    yang jelas video rekaman yang asli atas seluruh kejadian nya akan dapat kita lihat di pengadilan yang seadil2 nya di akhirat nanti.............sory kalo OOT...habis bingung sihhh...semua nya ngaku yg paling bener

  13. #12
    Beginner Member
    Join Date
    Jul 2008
    Posts
    24
    Thanks
    0
    Thanked 3 Times in 3 Posts
    Rep Power
    0

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    jadi bingung ni bos,yang bener yang mana ya. yang mana dong yang bener.ayo kasih pendapat

  14. #13
    Full Member ab media's Avatar
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    www.abmedia-gsm.com
    Posts
    219
    Thanks
    16
    Thanked 601 Times in 55 Posts
    Rep Power
    13

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    jangan bingung bos jay, semua sudah jelas kok...penguasa orde baru lah yg membuat rakyat jadi bingung akan sejarah dan sejarah pun dibuatnya dengan semua rekayasa dia....

  15. #14
    Beginner Member
    Join Date
    Jul 2008
    Posts
    24
    Thanks
    0
    Thanked 3 Times in 3 Posts
    Rep Power
    0

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    kenapa sejarah kok berubah ubah,cenderung membela yang sedang berkuasa.

  16. #15
    Moderator prima_cell's Avatar
    Join Date
    Jun 2007
    Location
    www.bismania.com
    Posts
    1,327
    Thanks
    110
    Thanked 4,000 Times in 473 Posts
    Rep Power
    48

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Yup...semua itu hanya rekayasa penguasa Orde Baru...ditambah intervensi asing dalam kasus G30SPKI..

    Peran Amerika khususnyha agen2 CIA tidak bisa dilepaskan dalam hal ini..

    Terlebih setelah Orde Baru berkuasa IMF dan Bank Dunia semakin mudah untuk melakukan aksinya di Indonesia..

    Ada film dokumenter dari sebuah LSM di Australia yang merekam kesaksian-kesaksian akan G30SPKI...

    Thank

  17. #16
    Full Member
    Join Date
    Mar 2008
    Posts
    87
    Thanks
    0
    Thanked 82 Times in 21 Posts
    Rep Power
    7

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    wah , untung dinasti soeharto dah lewat , kalo ngga bisa berabe neeh posting begitu , bisa tinggal nama doang ntar ... he..he..he...

  18. #17
    Advance Member Ludfi_fikri's Avatar
    Join Date
    Sep 2007
    Posts
    563
    Thanks
    127
    Thanked 672 Times in 188 Posts
    Rep Power
    10

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Kalo menurut saya sih............dari kacamata saya lho....
    Mana yg benar mana yang salah kita tidak bisa melihat sekarang.....
    Hanya yang perlu kita waspadai sekarang justru interfensi pihak asing yang dari dulu ingin menguasai Negara Indonesia tidak hanya pada saat GESTAPO saja......bahkan sampai sekarang masih saja ada interfensi pihak asing...terutama dari Amerika....
    Nampak jelas pada FREPORT (bener gak ya tulisannya hihihi)....negara sudah jelas dirugikan banyak sekali.....namanya penjajahan tetap saja ada.....hanya dengan bentuk yang lebih halus....termasuk maraknya kasus2 yang melibatkan permusuhan suku dan ras.....
    Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat strategis perlintasan laut internasional.......maka banyak negara yg ingin menguasainya.....berapa banyak keputusan pemerintah yg bergantung dengan Amerika....yang dimulai dari kemauan IMF.
    Lebih baik kita berhati-hati dan lebih bijaksana pada setiap masalah......karena dari sejarah2 dahulu bangsa kita sangat mudah dipecah belah..........itulah yang dipelajari pihak asing yang ingin menguasai negara kita.......salah satunya dengan kejadian GESTAPO Amerika takut jika indonesia akan memihak Rusia dan RRC.
    MARI KITA GALANG PERSATUAN DAN KESATUAN...........INGAT!!!!!....BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH.....

  19. #18
    Super Moderator N8250's Avatar
    Join Date
    Jul 2007
    Location
    Kal-Tim
    Posts
    1,437
    Thanks
    359
    Thanked 1,549 Times in 363 Posts
    Rep Power
    19

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Besok Udah 1 Oktober sudah 43 th tragedi memilukan itu berlalu..Sejarah bangsa kita memang penuh tangis dan darah..Sebagai generasi penerus cukuplah kita sekedar mengetahui, tanpa perlu mencari siapa benar siapa salah..Alm.Soeharto yg banyak dituduh sebagai aktor utama dalam peristiwa tsb juga sudah banyak berjasa thd negeri ini..

  20. #19
    Super Moderator uchu's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Location
    Istana Buton
    Posts
    576
    Thanks
    40
    Thanked 3,184 Times in 345 Posts
    Rep Power
    0

    Default Re: cuplikan tragedi G30SPKI Versi DR.Soebandrio

    Sulit mengambil kesimpulan kalo hanya berdasarkan pada satu sumber aja(DR.Soebandrio)
    sebab manusia itu relatif omz.

  21. #20
    Moderator h4ck_Z's Avatar
    Join Date
    Aug 2008
    Location
    Makassar
    Posts
    707
    Thanks
    175
    Thanked 529 Times in 133 Posts
    Rep Power
    12

    Default

    advertisement
    Quote Originally Posted by uchu View Post
    Sulit mengambil kesimpulan kalo hanya berdasarkan pada satu sumber aja(DR.Soebandrio)
    sebab manusia itu relatif omz.
    iya tuch... Apalagi banyak sumber2 yg mengatakan ini benar, itu benar jadi g'ada yg $mpurna.. :-)

Page 1 of 2 12 LastLast
Selular 88

Similar Threads

  1. PST HUAWEI versi 1.20
    By CELLULARLABS in forum Huawei CDMA
    Replies: 44
    Last Post: 20th February 2011, 11:32
  2. Versi Huawei gw
    By bimasakti85 in forum Huawei CDMA
    Replies: 1
    Last Post: 14th September 2008, 20:06
  3. versi nya k750
    By GILBERT in forum Cruiser
    Replies: 3
    Last Post: 22nd November 2007, 18:07
  4. cuplikan-sejarah-internet-indonesia-05-2000
    By ami_ridho in forum Out of Topic
    Replies: 0
    Last Post: 15th January 2007, 08:03